Subscribe to My Blog
  • Welcome To Our NEW TANJONG PURA!

    Welcome back! I'm delighted to announce that for some good reasons finally have decided to transform our family site into this compact model so you can surf and get involve with it (if you will) a lot more easier than ever. This "gado-gado-pecal" site - written in mixed Bahasa indonesia, broken Malay, boso Jowo and definitely broken English - is being reserved to be one of our family's online spots where we can share anything, I mean anything at all, which relates especially to our late Haji Rais's family issues. Some reconstructions are still on the go and therefore, please accept my apologies for the inconvenience. In the mean time try some menus as well as the dark green arrow buttons next to this ... (Read more)

  • New MADRASAH KITA

    Sejalan dengan perubahan pada Tanjong Pura, hal yang sama juga berlaku pada Madrasah Kita. Tempat mengaji kita ini mengalami perubahan pula, khususnya pada tampilan dan pengaturan label bacaan dalam daftar menu yang sudah lebih spesifik. Silahkan singgah untuk melihat apa saja yang berobah dan, jika berkenan, harap tinggalkan saran, komentar, termasuk kritik, yang perlu kami perhatikan guna menjadikan Madrasah Kita ini lebih bermanfaat bagi pembaca .... (Read More)

  • SERAMBI MELAYU

    Sebelumnya ini adalah halaman SEJARAH yang dimaksudkan untuk menghimpun semua catatan sejarah yang terhubung dengan keluarga Haji Rais. Namun sejak dibuka sekitar 3 bulan lalu untuk publik - khususnya kepada anggota Perhimpunan Melayu on facebook - dalam rangka mengakses tulisan Tuanku Luckman Sinar Badarsyah II, maka jumlah pengunjung meningkat cukup tinggi. Karenanya, demi tetap memelihara privasi keluarga Haji Rais sendiri, selanjutnya halaman tersebut kami pisahkan dari rangkaian halaman TANJONG PURA untuk kemudian menjadi situs yang berdiri sendiri. Sebuah halaman menarik .... (Visit Site)

  • CERITA ANTAR KITA

    Sejak dibangun hampir 2 tahun lalu, situs yang satu ini sebenarnya dimaksudkan sebagai bagian integral dari TANJONG PURA. Namun dalam perjalanannya beberapa anggota keluarga, khususnya dari garis keturunan Mbah Oko, menganjurkan agar sebaiknya situs ini dijadikan sebagai ruang keluarga Mbah Oko saja. Oleh karena itu, kendati tidak melepaskan diri dari ikatannya dengan Keluarga Besar Bani Haji Rais, maka situs CERITA ANTAR KITA selanjutnya akan dipersiapkan sebagai situs yang akan lebih banyak mengumpulkan cerita-cerita seputar keluarga garis keturunan Mbah Oko. Kepada seluruh .... (Read More)

  • KEDAI KOPI

    Anda menyukai, atau mungkin sangat menyukai, kopi seperti saya? Silahkan rajin-rajin singgah di situs yang satu ini. Sebab di sini ada berbagai tips tentang kopi, dan seperti kebanyakan yang terjadi di sebuah kedai kopi, juga ada macam-macam sembang kopi mengenai "hot" issues yang sedang berlaku. Bagian dari situs keluarga ini juga baru saja mengalami transformasi bentuk menjadi lebih sederhana dibandingkan dengan bentuk semula atau yang sekarang ini saya lebih suka menyebutnya sebagai clean & simple. Situs ini memiliki grup sendiri di facebook dan .... (Read More)

  • FOLLOW THIS SITE, PLEASE!

    Dari sekian banyak anggota keluarga, sejauh ini jumlah yang sudah bergabung dalam kelompok Keluarga Besar Bani Haji Rais di facebook misalnya, tercatat hampir 200 orang. Jumlah yang tentunya sangat menggembirakan karena menunjukkan tumbuh dan berkembangnya rasa persaudaraan yang besar antara satu sama lain meskipun sesungguhnya banyak di antaranya yang bahkan belum pernah saling bertemu muka! Dalam rangka memelihara dan mempererat hubungan ini, maka di sisi kanan halaman ini kami siapkan kolom "Follower" untuk diikuti oleh sebanyak-banyaknya anggota keluarga ... (Read More)

  • I AM THINKING OF ALLAH

    Dalam upaya memperdalam pengetahuan pasal ugama di lingkungan keluarga, ternyata MADRASAH KITA tidak berdiri sendiri. Masih ada situs "saudaranya" di Malaysia yang selalu dapat dijadikan referensi, yakni I AM THINKING OF ALLAH yang diasuh oleh Sdr. Mohd Zakiyuddin bin Mohd Zahari. Situs ini juga baru saja mengalami tranformasi bentuk dan penampilan lama menjadi seperti yang terlihat sekarang. Bagi anda yang tertarik untuk mendalami masalah ugama, atau setidaknya memerlukan referensi menyangkut pasal ugama, silahkan berkunjung dan berinteraksi .... (Read More)

Welcome, and welcome back!
I'm delighted to announce that for some good reasons I've finally decided to transform our family site into this compact model so you can surf and get involve with it (if you will) a lot more easier than ever.

This "gado-gado-pecal" site - written in mixed Bahasa Indonesia, broken Malay, Boso Jowo and definitely broken English - is being reserved to be one of our family's online spots where we - members of this big family, can share anything, I mean anything at all which relates especially to our late Haji Rais's family issues.

Some reconstructions are still on the go and therefore, please accept my apologies for all the inconveniences you might have experienced recently. Perhaps it helps to understand that this particular site's transforming made to the domain as well. Consequently, we need a little time to fix especially some archives missing links. Or in short I just want you to know that I'm doing all I can to make this site works better.

In the mean time I guess you can already try some menus including the dark green arrow buttons on the right down corner of this site's header. Some new features are being highlighted there.

Give me feedback, please!
Thank you.

Kehidupan Paripurna

Bang Nonki On
Dalam adat istiadat dan tradisi Jawa, banyak filosofi dan pelajaran hidup yang disampaikan melalui lambang-lambang. Di antaranya adalah yang diajarkan kepada seseorang yang menginginkan sebuah kehidupan paripurna. Untuk mendapatkan ini konon ia harus memiliki atau memenuhi lima hal sebagai berikut:

1. Wisma (Rumah)
Penafsiran tentang rumah ini boleh jadi agak kompleks, namun dua unsur terpenting yang dilambangkan dengan rumah adalah sebagai tempat kembali, baik dalam arti harfiah di mana manusia perlu tempat untuk pulang, maupun sebagai peringatan bahwa suatu saat nanti manusia pasti akan kembali ke asalnya yakni menghadap sang Pencipta. Ungkapan orang Jawa tentang hidup ini sangat sederhana; "Wong urip kui gur mampir ngombe." atau manusia hidup itu cuma singgah untuk minum. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan manusia pada hakekatnya sangat singkat dan kita harus selalu mengingatnya.

Rumah juga berarti keluarga, tempat berkumpulnya pasangan suami istri dan anak-anak yang saling menyayangi dan melindungi. Ini lambang tentang
cinta kasih dan kelembutan. Dari rumah inilah manusia belajar untuk selalu mengasihi orang lain dan menghindari nafsu angkara murka terhadap sesama.

2. Peksi (Burung)
Rata-rata orang Jawa jaman dahulu memelihara burung (dalam arti sesungguhnya), dan biasanya burung perkutut. Mereka memelihara perkutut karena burung ini terkenal memiliki suara yang merdu. Dengan demikian, sebagai makhluk sosial sang pemilik juga diharapkan memiliki suara yang bagus, dalam artian bila berbicara selalu memperhatikan kaidah dan tata krama, menghindari diri dari berbicara dengan nada sumbang apalagi sombong, serta terus menerus belajar untuk dapat bertutur dengan lemah lembut sehingga terdengar merdu di telinga. Burung juga lambang media rekreasi yang dapat membantu seseorang menikmati waktu luang dan mencapai perasaan rileks.

3. Turangga (Kuda)
Selain sebagai sarana transportasi, kuda juga merupakan lambang atas kemampuan seseorang dalam mengendalikan sesuatu di luar dirinya. Kita semua mengetahui bahwa menunggang kuda adalah tindakan yang membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam menguasai tali kendali. Kemampuan ini akan membiasakan seseorang untuk setiap saat mampu menguasai diri sendiri dan mengendalikan hawa nafsu yang menggoda dirinya.

4. Al Quran (Agama)
Agama adalah system, atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau (dahulu) disebut juga Dewa atau nama lainnya. Agama berhubungan dengan ajaran pengabdian dan kewajiban-kewajiban manusia yang bertalian dengan kepercayaannya kepada Tuhan. Kata lain untuk menggambarkan konsep ini adalah religi yang berarti bahwa seseorang mengikatkan dirinya kepada Tuhan. Melalui ikatan inilah kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi paripurna sesuai dengan ajaran agama.

5. Keris (Perisai diri)
Rata-rata orang Jawa jaman dahulu memiliki keris yang digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Tetapi bukan berarti bahwa untuk menjadi paripurna seseorang harus selalu memiliki senjata. Keris di sini melambangkan kemampuan seseorang untuk menjaga dan melindungi diri dan keluarganya dari segala anasir jahat yang dapat mengganggu ketenangan hidupnya. Ini lambang tentang kepribadian yang kuat, baik lahir maupun bathin.



Wasiat Mbah Oko

Bang Nonki On
Samar-samar saya masih ingat almarhum Bapak saya pernah bercerita bahwa di saat-saat terakhir sebelum wafat, ayahnya, atau kakek kami mbah Oko, masih sempat wanti-wanti berpesan kepada semua anak-anaknya bahwa beliau tidak menginginkan siapapun dari keturunannya yang sampai terlibat MOLIMO.

Almarhum Bapak mengatakan bahwa larangan itu menyerupai sumpah, dan kakek memperingatkan bahwa siapapun anak, cucu, dan cicitnya yang melanggar ini akan hidup sengsara sampai tujuh turunan!

Lalu, apakah MOLIMO itu?

Di kalangan masyarakat Jawa kata Molimo atau Lima M bukanlah hal yang asing. MOLIMO adalah adab yang dipegang teguh secara turun temurun, yang pada hakekatnya memang sangat sesuai dengan ajaran islam. Adab tersebut mengajarkan agar dalam hidupnya manusia selalu berusaha untuk mejauhi MOLIMO. Walaupun pada kenyataannya tidak sedikit yang diam-diam atau bahkan terang-terangan menjalani salahsatu atau kelimanya!

Lima "M" itu dalam bahasa Jawa terdiri dari:
  • MAIN ~ berjudi, perjudian.
  • MADON ~ prostitusi.
  • MALING ~ mencuri, korupsi, dll.
  • MADAT ~ candu, narkoba.
  • MINUM ~ minuman keras, mabuk.

Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang besentuhan atau menjalani salahsatu saja dari MOLIMO ini pada akhirnya akan mengalami penderitaan, baik lahir maupun bathin. Sedangkan sebaliknya, mereka yang mampu menghindari molimo akan mendapatkan hati, rohani, dan jiwa yang bersih serta fisik yang sehat. Jauh dari segala gangguan berbagai jenis penyakit dan Insya Allah, secara keseluruhan kehidupan keluarganya senantiasa tentram dan damai.

Jika diperhatikan, sesungguhnya MOLIMO adalah bentuk logis dari azas "sebab-akibat" yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan untuk itu rasanya tidak perlu panjang-panjang, karena secara alamiah memang begitulah adanya. Tapi dalam kaitannya dengan sumpah almarhum kakek, sejak kecil diam-diam saya juga memperhatikan bahwa memang benar terbukti bahwa ada di antara keturunan kakek yang terpaksa harus menjalani kehidupan tidak menyenangkan sebagai akibat dari keterlibatannya dengan salahsatu dari MOLIMO ini.

Kendati begitu, tulisan ini tidak saya maksudkan untuk mencampuri, apalagi menggurui siapapun dalam lingkungan keluarga besar kita. Tulisan ini saya sampaikan semata-mata demi menuruti anjuran Pak Long Mohammad Husaini agar kita berbagi serba sedikit pengetahuan yang berasal dari adat Jawa yang menjadi akar budaya asli Keluarga Besar Bani haji Rais.

Semoga bermanfaat!



Gambar kenangan bersama Allahyarham semasa beliau dan Tok Mardiyah mengunjungi rumah kami di Perumahan Awam Batu 4, Kamunting, Taiping pada tahun 1979. Itu pertama kali baru saya (kiri sekali) tahu ada saudara-mara di Indonesia. Masa itu saya balik bercuti musim panas antara bulan Jun hingga Ogos 1979. Tak tahu nama dan kaitan mereka. Sehingga lah kunjungan saya ke Jakarta dan akhirnya ketemu juga beliau pada 2 Ogos 2008. Iaitu hampir 28 tahun niat hendak bertemu beliau terkabul. Syukur alhamdullillah.

Gambar tersebut dirakam menggunakan kamera pertama yang saya beli di England. Walaupun gambarnya tak berapa jelas,kamera murah,tapi yang penting detik kehadiran mereka itu amat berharga bagi saya.

Dari: H. Zulkifli Zahari - Foto daripada 29 tahun lalu.


Tentang Jin

Bang Nonki On
Oleh: Nonki
Belasan tahun lalu saya pernah bertanya pada adinda Alm. Ayahnda kami; Alm. Paman Thahar Mas, tentang Jin. Benarkah kita bisa mengendalikan mereka sesuai kehendak kita? Paman menjawab; "Bisa!" Lalu ketika saya bertanya bagaimana caranya, Paman tersenyum, tapi wajahnya terlihat serius. Kemudian ia mengingatkan bahwa sebaiknya saya tidak usah coba-coba berurusan dengan perkara ini. Pasalnya, menurut beliau berurusan dengan Jin adalah hal yang akan lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat, terutama menjelang ajal menjemput nanti.


"Dulu, ketika Paman dan Bapakmu masih kecil dan selama bertahun-tahun belajar mengaji pada seorang Tuan Guru di Tanjung Pura, perihal Jin ini baru diberitahukan kepada kami pada hari terakhir, saat di mana kami dianggap telah khatam oleh beliau."

Kemudian Pamanpun menceritakan bagaimana di hari yang sangat istimewa bagi Paman dan Bapak saya itu, sang guru memperlihatkan kepada mereka beberapa contoh "kekuatan" manusia atas Jin dan bagaimana caranya manusia dapat berhubungan dengan alam gaib.

Karena ketika itu semua yang diperlihatkan oleh sang guru benar-benar mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja membuat Paman dan Bapak saya tidak henti tercengang penuh takjub.


"Pada dasarnya Paman dan Bapakmu sama-sama menguasai pengetahuan tentang bagaimana memerintah dan mengendalikan Jin. Tapi karena kami belajar tentang hal-hal yang derajatnya lebih tinggi dari hanya sekedar berurusan dengan Jin, maka sesuai pula dengan pesan guru kami; Paman dan Bapakmu sepakat untuk seumur hidup tidak akan pernah bersentuhan dengan hal ini."

Lalu sambil dengan santai menyulut api ke pipa cangklongnya paman melanjutkan. "Itu sebabnya tadi Paman katakan bahwa sebaiknya kau pun tidak usah berurusan dengan Jin!"


Related article(s): Alam Jin menurut Al Quran dan Sunnah Rasul


Kampung Basilam

Bang Nonki On
"Pabila cinta kepadaMu tlah merasuk sukma dan kerinduanku mendera tanpa jeda, maka sirnalah semua yang maujud..."

Kampung Basilam adalah kampung tarekat Naqsabandi Qadiriyah. Penghuninya adalah para sufi yang menjalankan tarekat Naqsabandi Qadiriyah. Siang malam, adalah hari hari di mana suara dzikir dilantunkan kencang tanpa henti. Mencari Allah, dalam rasa cinta yang kuat di dada. Tidak ada yang tersisa lagi di dunia ini, kecuali mencari Dzat Allah yang Pengasih.

Kampung Basilam sejatinya merupakan pusat Tarekat Naqsabandi Qadiriyah tertua di Indonesia, bahkan dipercaya tertua di Asia Tenggara. Muridnya tersebar ribuan orang dalam kurun waktu sekian abad di seluruh pelosok negeri. Mereka datang ke mari untuk mencari jalan menuju Sang Khalik. Sebuah jalan atau tarekat yang dipercaya akan memupuk cinta manusia pada Allah yang Maha Esa dengan serangkaian didikan agama yang taat dalam pengasingan terhadap kehidupan duniawi.

Lalu, mengapa cerita ini ada di sini? Jawabnya tidak lain adalah karena konon katanya Tuan Guru dari Ayah kami beserta adik-adiknya semasa kecil dan belajar mengaji di Tanjong Pura dahulu juga berasal dari kampung ini. Adapun tentang benar atau tidaknya, walahualam bissawab.

Terlepas dari soalan ini, kampung Basilam sendiri memang sesungguhnya menarik untuk dicermati mengingat sejak dahulu kala tidak banyak kita temui rumah pesantren di Sumatra. Jika pun ada, mestilah istimewa.

Lanjutkan membaca.



Feel like sharing with anyone in your circle? Or perhaps got something to suggest and discuss with the rest of family members? Try one of these;

1. Family Discussion Board on Geni.Com
2. Family Wall on facebook

See you there!





Arsip Shoutmix Lama

Bang Nonki On
Dari Halaman KELUARGA

Dari Halaman BERITA

Dari Halaman INTERAKTIF

Dari Halaman SEJARAH

Mbah Oko

Bang Nonki On
.




Halaman ini sedang dalam persiapan.
Kepada anak, cucu, dan cicit dari garis keturunan beliau yang meminta halaman ini, dengan ini diminta kesediaan dan kerjasamanya untuk juga ikut membantu mengumpulkan informasi, resume, biografi, foto dan cerita-cerita seputar Mbah Oko untuk sama-sama kita tampilkan di sini nantinya.

Sementara itu, silahkan mampir dulu ke situs Mbah Oko di sini.

Demikian, harap maklum.
Terima kasih.


Selamat Tahun Baru 2010

Bang Nonki On

Interactive

Bang Nonki On
This forum is private. To participate on this interactive family discussion, you will need to log-in using your valid account registered on www.geni.com.


<<< READ MORE >>>

TAIPING 15 Dis. - Kira-kira 1,200 ahli keluarga keturunan Haji Rais dan Haji Raof berkumpul sempena sambutan Hari Raya Korban di Dewan Majlis Perbandaran Taiping (MPT), Kamunting di sini baru-baru ini.

Perhimpunan keluarga besar yang pertama kali dianjurkan itu bertujuan merapatkan hubungan persaudaraan dan menemukan semula rantaian keluarga berkenaan dari seluruh pelosok negara termasuk Indonesia.

Majlis yang berlangsung mulai pukul 9 pagi hingga 6 petang itu diadakan dalam suasana penuh kemesraan dengan memberi kesempatan sebilangan daripada mereka yang tidak pernah bertemu saling mengenali.

Pencatat salasilah keturunan Haji Rais dan Haji Raof, Zulkifli Zahari, 48, berkata, semua ahli keluarga yang berkumpul hari ini merupakan keturunan Haji Rais dan Haji Raof dari generasi ketiga sehinggalah kelapan.

''Usaha mengumpul rantaian keturunan ini sudah lapan tahun diusahakan dan akhirnya menjadi kenyataan pada hari ini.

''Kita mengambil masa yang lama untuk mengadakan majlis ini kerana perlu menjejaki keturunan Haji Rais dan Haji Raof yang berada di seluruh Malaysia serta Indonesia," katanya ketika ditemui di Dewan MPT Kamunting di sini baru-baru ini.

Menurut Zulkifli, ahli keluarga yang berkumpul hari ini terdiri daripada pelbagai peringkat umur dan paling tua berusia 94 tahun iaitu Jamali Habib. Antara keturunan Haji Rais dan Haji Raof yang berjaya dan dikenali ialah Orang Besar Perak 32, Datuk Mohd. Zailani Jamali; bekas Yang Di pertua Majlis Perbandaran Teluk Intan, Datuk Nor Ariffin; Pengarah Urusan Kumpulan DRB-Hicom Bhd., Datuk Mohd. Khamil Jamil dan Ahli Lembaga Pengarah Chemical Company of Malaysia (CCM), Datuk Seri Mohd. Hussaini Abdul Jamil.

Mengikut asal usul, kata Zulkifli, moyang mereka iaitu Haji Rais dan Haji Raof berasal dari Pulau Jawa, Indonesia yang kemudian berhijrah ke negara ini. Mengenai perhimpunan hari ini, beliau berkata, ia sengaja diadakan sehari selepas sambutan Hari Raya Aidiladha kerana ingin memudahkan semua sanak saudara berkumpul.

''Kebanyakan keturunan Haji Rais dan Haji Raof berasal dari Kamunting. Jadi, ramai yang pulang ke kampung untuk menyambut Hari Raya Korban dan kesempatan itu digunakan untuk mengumpulkan mereka," katanya.

Sementara itu, Jamali ketika ditemui memberitahu, dia gembira berpeluang bertemu dan berkenalan dengan sanak saudara yang datang dari serata Malaysia dan Indonesia seperti Acheh, Bandung serta Jakarta.

''Syukur kerana dalam usia begini saya berpeluang bertemu dan mengenali keturunan saya. Majlis bersejarah seperti ini tidak pernah termimpi oleh saya sebelum ini," katanya.


From The Messy Desk

Bang Nonki On
Since my last note made before Hari Raya, there is still not much to tell about this blog except a little change made on our Interaktif page which eventually has turned to became some sort of web portal for our recognized Family Blogs. By having this page transformed into it's origin purpose, now you can easily get yourselves well-informed whenever a family blog being up-dated or, you can even visit any of these blogs simply by a few clicks.

For those who are interested in Melayu Sultanate Histories, particularly that related to Tanjong Pura - or eastern parts of Sumatera island in general, we have presented a serial papers (12 chapters) written exclusively by Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II on our Sejarah page. Should you feel like spending some time to have good reading here, a little advise may be helpful is try to read the chapters orderly (read also my comment on the preliminary paper).

Another progress I found interesting is the "under construction" windows on our Keluarga page. With the long distance's helps from our two dear brothers; H. Zulkifli Zahari & HM. Saihan we are currently working on a little effort to connect everyone of us with our respectfully ancestor's pedigrees on www.geni.com through this special page. Hopefully this will work well and naturally, help us to understand the family relationship between each others more better from time to time (read also my comment that helps you to optimize these windows).

We have worked also on our Family Guestbook through which we expect to be able to share anything, we mean anything at all, between all family members and guests, of course, without any hesitation.

No new family news beside those which most probably you've already noticed from Air Dicincang Tak Akan Putus Blog, or perhaps, from our family wall on facebook.com. Therefore, in order to keep providing brief pictures about this family - especially to our new visitors, a couple of "related to the family matters" news are still remain on our Berita page.

Last but not least, in conjunction to this progress we did also change our Keluarga Besar Bani Haji Rais's icon on facebook.com to a simple one and wondered what you all will say about that.

Looking forward to have heard from you soon.
In the meantime, thank you again for visiting our family blogs.

Best regards,
Abang Nonki.
Oleh T. Luckman Sinar Basyarsyah II

Tulisan ini berisi informasi tentang pertumbuhan 23 Kerajaan Melayu di Sumatera Timur dan Riau, baik yang kecil maupun yang besar. Dari sejarah kerajaan-kerajaan tersebut dapat dilihat terjadinya interaksi antar kerajaan, tentang nilai-nilai budayanya, dan tentang konsep politiknya. Informasi ini dapat dijadikan bahan untuk memetik potensi-potensi yang ada maupun mengetahui kelemahan-kelemahan yang membuat kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran.

Pendahuluan
Ruang lingkup pembahasan makalah ini adalah Karesidenan Sumatera Timur (Residentie Oostkust van Sumatera) yang lepas dari Residensi Riau pada tahun 1873. Meskipun ruang lingkup ini sempit, namun Kerajaan Melayu yang akan disinggung cukup banyak, karena wilayah Karesidenan Sumatera Timur sebelum 1 Januari 1940 juga meliputi Kerajaan Siak, Pelalawan, Gunung Sahilan, Kepenuhan, Kunto Darussalam, Rokan IV Koto, Kampar Kiri, Rambah, Sengingi, Logas, dan Tambusai. Wilayah Kerajaan Melayu mulai dari Siak ke selatan. Pada tahun 1940 Kerajaan Melayu dipisahkan dari wilayah Karesidenan Sumatera Timur dan menjadi wilayah Kerajaan Melayu Riau. Oleh karena itu, pembatasan pembahasan Kerajaan-kerajaan Melayu di Sumatera Timur hanya sampai pada masa sebelum datangnya Jepang, yaitu sebelum tahun 1940.

Pada tahun 1915 kerajaan-kerajaan Melayu yang masuk wilayah Karesidenan Sumatera Timur menjadi wilayah Provinsi Sumatera Timur, dengan ibukota Medan. Empat Kerajaan Melayu di Temiang, yaitu Kerajaan Bendahara, Kerajaan Karang, Kerajaan Sutan Muda, dan Kerajaan Muda dikeluarkan dari Sumatera Timur dan dimasukkan ke wilayah Provinsi Aceh oleh Belanda pada tahun 1900.

Kerajaan besar yang berstatus kesultanan dengan Kontrak Politik adalah: (1) Deli; (2) Asahan; (3) Siak; (4) Serdang; (5) Langkat; (6) Kualuh; (7) Pelalawan, sedang kerajaan-kerajaan dengan Pernyataan Pendek (Korte Verklaring), adalah: (8) Billah; (9) Gunung Sahilan; (10) Kedatukan Indrapura (Batubara); (11) Kepenuhan; (12) Kunto Darussalam; (13) Kotapinang; (14) IV Kota Rokan Kiri; (15) Kedatukan Lima puluh (Batubara); (16) Logas; (17) Panai; (18) Kedatukan Pesisir (Batubara); (19) Rambah; (20) Singingi; (21) Kedatukan Suku Dua (Batubara); (22) Tambusai; (23) Kedatukan Tanah Datar (Batubara).

Selanjutnya makalah ini dibagi menjadi 12 (dua belas) tulisan yang merupakan kesatuan dari seluruh rangkaian makalah bertajuk Kesultanan Melayu Di Sumatera Timur. Adapun masing-masing tulisan tesebut adalah sebagai berikut:
  1. Kerajaan-Kerajaan Melayu Tua
  2. Pertentangan Aceh, Portugis, dan Imperium Melayu
  3. Lahirnya Kerajaan Di Pesisir Sumatera Timur
  4. Negeri-Negeri Batubara
  5. Wilayah Rokan Dan Timbulnya Perang Padri
  6. Pertentangan antara Inggeris dan Belanda
  7. Agresi Belanda Ke Sumatera Timur
  8. Reaksi Atas Pembukaan Tanah Perkebunan Di Deli
  9. Sistem Pemerintahan di Sumatera Timur
  10. Situasi Beberapa Kerajaan Di Sumatera Timur
  11. Sistem Peradilan Kerajaan Melayu Jaman Belanda
  12. Orang Melayu Dan Rajanya

Sumber: Khalik News


Budaya asli Melayu Langkat ternyata lebih dihargai di negeri jiran Malaysia dibanding di rumahnya sendiri di Indonesia.

Budayawan Melayu dari Langkat Zaenal Arifin AK menyatakan, penghargaan tersebut terlihat dari kunjungan berkali-kali para guru besar dan Pemerintah Malaysia meneliti budaya di Kota Langkat.

“Pemerintah dan akademisi Malaysia lebih peduli pada budaya Melayu kita daripada pemerintah dan masyarakat kita sendiri,” tandas Zaenal kepada SINDO di Museum Langkat Tanjung Pura akhir pekan lalu. Padahal, Langkat merupakan pusat awal sejarah budaya Melayu yang masih terjaga keasriannya.

Berbeda dengan Melayu di daerah lain yang sudah tercampur baur dengan suku lain. “Melayu di Medan misalnya, sudah bercampur dengan gaya bahasa Mandailing dan Batak. Jadi, tidak tampak lagi kelembutan dan kehalusannya. Sebab, yang membudayakannya justru kebanyakan di luar Melayu.” paparnya.

Karena itu, peneliti dari Malaysia telah berkali-kali mengunjungi Langkat untuk menggali sejarah dan potensi budaya di Langkat. Sementara itu, Pemerintah Indonesia sendiri tidak memiliki kepedulian sama sekali.

Dia juga berkali-kali diundang untuk memberikan semacam pergelaran seni, drama, dan tari (sendatari) Melayu di negeri jiran. Bahkan, dia pernah diminta memberikan pelatihan tata cara memakai kain pencak samping yang menjadi pakaian kebesaran Melayu. Ironisnya, di Langkat justru tidak ada yang peduli dengan warisan leluhur tersebut.

“Ada sembilan bentuk tata cara pemakaian kain pencak samping. Namun, yang berminat mempelajarinya justru mereka yang di Malaysia, sedangkan kita yang memilikinya tak peduli sama sekali,” tuturnya.

Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari mengakui ada kesenjangan di tataran akademisi Malaysia dengan Indonesia, khususnya Sumut. Karena itu, wajar bila peneliti negeri jiran lebih aktif melakukan penelitian di Indonesia.

“Itu semua bergantung pada kebijakan pemerintah yang peduli pada penelitian kebudayaan bangsanya sendiri atau tidak.” tutur Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed itu.

Menurut dia, gairah akademisi di Indonesia jauh berbeda dalam melakukan penelitian. Sebab, mereka masih memikirkan subsistensi hidup yang tidak mencukupi jika mengandalkan gaji sebagai akademisi. (m rinaldi khair)

Sumber : www.seputar-indonesia.com (8 September 2008)
Foto Museum Langkat: BPS Langkat

News Of The Week

Bang Nonki On
I guess, many of you were disappointed for having this page remains unchanged for quite some time. I bet you too, would agree with the rest of our visitors to let someone simply change the title of this News of the week with something like, say, News of the decade.

Our dear brother Zulkifli Zahari wrote me once that it seems to him that I spend more times on facebook rather than taking good care of this page or keeping myself well-informed about so many progresses on our Geni. And you know what? I guess he made his point alright. Therefore,
once again I owe you apologies, folks!

Speaking of which, I noticed that recently many of our family members are getting themselves (including myself) connected to each others on facebook - either through "Abang Zul's" friend suggestions or by own initiatives, but funny! Most of us are completely confused about the "pangkat" that supposed to be recognized within our family relationship. It's fun though, but as suggested by Abang Zul from time to time, it has always been advisable to check it out through our family tree on Geni or else, let's also check it out through our own page namely Keluarga Besar Bani Haji Rais on facebook.

Last but not least, SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN everyone!
May this Ramadan bring in you the most brightest and choicest happiness and love you have ever wished for.

Salam,
Abang Nonki

A friend sent me this article which he got from his circle on facebook.com. I found it interesting and therefore would like very much to share it with you.

By: Tengku Ryo Riezqan
Do we realize that the yellow sticky rice and coconut mixture with the brown sugar which the Malay used to call "inti" that we probably are still eating and enjoying now (as we sitting in the event of syukuran, akikah, tepung tawar, or pinangan etc. that epresents part of Malay culture) also being enjoyed in Malaysia, Brunei, Singapore or other countries that have a strong Malay culture?

The sweat comes out of the scalp and face are because we eat roti jala and kari kambing are also being experienced by someone in Riau, Palembang, Jambi, Pontianak, Medan, or other areas that have Malay's taste whereever you look at.

Nak Kemane Pa'cik? Ape hal ni? Ape nak buat tu?, are sound strange indeed not in all the said regions or countries. Not to mention the very similar songket, teluk belanga, peci hitam, tudung kepala, baju kurung and so forth, which could be seen when there are traditional parties in progress (since blue jeans and t-shirts are more day to day's wear now). But, yet those outfits are for sure still there, well-kept in the cupboard and always ready for use.

Their wisdoms, wise saying, advices, pantun, jokes, and caci maki, can never be covered or hidden behind their current trend in fashions.

Their tongue can not be fooled between gudeg's taste with lomak curry or tea tubruk's with tea tarik or the familiar sounds in their ears and feelings between classical orchestra with the sound of cheers strings made by pak Nurdin while meronggeng with typical drum's beats and tone of akordeon whisper, or just mothers'hum with any Malay's tunes while sitting their babies are likely more touching rather than twisted voice of Celine Dion or Krisdayanti sonority.

All these are already there in our blood flows even before we were born as a Malay, something that we can not do about or choose, it is our genetics. It is our soul and selves, it is our calyx, the sense of identity and nationality of being a Malay.

However, it is not the case of a study or fact that we can proklaim as an excess over another nations or tribes, but that is the color of our people which we should grateful for instead. Only this "resam" apparently was not strong enough to unite us as one nation since territorial limits of a small area to the limits of a country makes us aparts. Although both have same cultural aspects at the same time, but one region or country always feel better than the others. We may be in different professions, education, standard of living, legal or political environmental and other physical conditions that we must follow the go. But do we realize that actually there are more facts which can not be limited just by those atributes?

As they said "If the Malay are like flowers withering themselves not because of being burnt by sun or pulled out from the ground but because they sincerelly bend," then a harmonious social interaction will be there, a philosophy that respects the award of nature and its contents without any limit .

Malay is a large nation (?) in terms of geographical and population that can not be denied. There are more than three countries in this region where the States have a great group of population who claimed themselves as Malay people, and some countries even have stake of Malay culture and history. However, it is only in quantity while from quality and entities, can we call these simply as band of a great Malay nation?

The facts that geographically, total population, culture and ideology have made - and certainly still can make - Malay people became a big and strong nation had already been well-noticed by other nations since centuries ago, especially by those who had been dealing with the region's authorities where Malay people were the mayor population. So, various strategic sparatisms were systematically planted within our way of viewing the Malay brotherhood and nationalism, natural resources, humanism, knowledge, science and nation's ethics which in fact, so rich, until they turned to became so blur then gradually hidden from our sight.

Read the poetic lyrics from the era of Sultan Badarudinsyah or even from a long time prior to this date which most probably were not documented in our countries, also the Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji from Penyengat, or the famous quotes from Hang Tuah "Tak Kan Melayu Hilang Di Bumi". Aren't they better thought to study rather than phylosophies of Socrates or Plato that we apply into our current laws and political views?

As the Malay saying, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung", do we - as one who are standing on the Malay earth right now - also appreciate its unlimited sky and adopt its phylosophies to become our ways of thinking and behave?

Malay tribe could wipe out strife, economic backwardness and political thorns so we wont be stucked by them and never get dusty or muddy while grappling with our daily life's demands.

To understand that the word "Malay" is not just an explanation of an identity but is a philosophy that will never finished dug out, will certainly enable us to gain back our great Malay nation glory. However, it's all impossible to happen if we stand still like a piece of lidi.

(Sungai Rokan, Rantau Bais, March 2007. Tengku Ryo Riezqan - Indonesian)

“The Human Family Tree,” Sunday night on the National Geographic Channel, is a stunt. But it’s an enlightening one, a painless lesson in biology and history that could change, or at least tweak, a lot of people’s fundamental perceptions about race.

The fun begins with members of the Genographic Project, a nonprofit venture of National Geographic and I.B.M., descending on a street fair in Astoria, Queens, to swab the cheeks of a hundred or so people in that highly diverse borough. The DNA samples will be used to demonstrate how these New Yorkers share common ancestries despite their assorted heritages: Puerto Rican, Irish, Turkish, African, Indian, Thai, Korean and so on.

(Also fun: the choice of narrator. It’s Kevin Bacon, Mr. Six Degrees of Separation himself.)

The program is part detective story. What secrets lie hidden in these Queens genes? The experimentees learn their results at the end of the two-hour show, and while the discovery of a white man or an Ashkenazi Jew in the family tree might seem unsurprising to the viewer, it knocks some of the test subjects for a loop. That’s the point, really: while it’s easy to pay lip service to the notion that we’re all the same under the skin, it can be hard to digest when you find out that it applies to you.

The bulk of the program is a standard science documentary about human migration, with the mandatory Google Earth-style zoom-ins, lots of arrows moving across continents and actors playing our ancestors at different points on the Homo sapiens timeline. (This involves wearing a lot of fake hair and non-PETA-approved fabrics.) You feel sorry in passing for our cousins the Neanderthals, dwindling toward extinction in their Iberian caves just 25,000 years ago while we were walking across the Bering Strait and populating the last new world.

The information being offered here is not original or particularly controversial (unless you’re in the camp that says no to the scientific method right up front). But to claim that we are all African - that every living man traces back to one 60,000-year-old African man and every living woman to one 200,000-year-old African woman, and that race is solely a product of adaptation to the environment - still feels like a revolutionary assertion, one that we as a species aren’t necessarily ready to grapple with.

On the way to their big we-are-family finish, the makers of “The Human Family Tree” build their case gently but insistently, showing how changes in climate explain different waves of migration out of Africa and across first Asia and then Europe. Moving ice and rising and falling oceans alternately give passage to or strand humans in places like Indonesia, the Philippines and Spain, accounting for local physical variations.

Facts are dropped in that illustrate both what a long, slow process our movement around the planet was and how quickly conquest and commerce affected the gene pool once some basic transportation problems were solved. Even at this point, the first three-quarters of human history took place entirely in Africa. But now 35 percent of African-American men carry European genetic markers.

After all this information, the big reveal is a bit of a disappointment. The DNA tests give a broad overview of racial heritage; they don’t tell you that, say, your great-great-great-grandmother was Oglala Sioux. The test subjects are brought together on a yard-size map of the world and made to stand on the continents representing their predominant markers; then they shuffle around in groups, re-enacting human migration in reverse, until everyone is crowded into Africa, cheering and waving color-coded DNA pennants.

The Queens cohort does, in fact, represent all the major migratory groups, thereby justifying the stunt’s original premise. This might not have worked in Stockholm or Nairobi, but you suspect that just as good a result could have been obtained in Los Angeles or Paris.

Of course, even in Queens not everyone is on board. An Irish-American man and his Korean-American girlfriend take part in the experiment to prove a point to her parents, who are conspicuous by their absence at the final get-together. It would be good “if my parents see this, you know, later on or whatever,” the woman says, but you don’t get the feeling that they’ll be watching anytime soon.

THE HUMAN FAMILY TREE
National Geographic Channel, Sunday night at 9, Eastern and Pacific times; 8, Central time.

Produced by National Geographic Television for the National Geographic Channel. For National Geographic Television: Chad Cohen, producer. For the National Geographic Channel: Char Serwa, senior executive producer; Juliet Blake, senior vice president of production; Steve Burns, executive vice president of content. Spencer Wells, project director; Kevin Bacon, narrator.

Read also preview of The Human Family Tree
Source: The New York Times

Undangan

Bang Nonki On
Kepada seluruh kerabat dan keluarga, diberitahukan bahwa Pertemuan Bulanan Keluarga H. Rais Indonesia akan diadakan pada:

Hari Minggu
Tanggal .10 Mei 2009
Jam 10:30 s/d selesai
Bertempat di kediaman keluarga H. Juandanilsyah
Jalan Palem IX No. 28
Perumahan Palem Semi
Karawaci, Tangerang

Ditunggu kedatangannya dengan penuh harap.

Wassalam,
Mohammad Saihan.

Siapa Sajakah Ini?

Bang Nonki On
Hari senin lalu, tanggal 27 April 2009, saya mendapat "pesan tertutup" di buku tamu keluarga dari seseorang yang bertanya tentang foto ini. Penggalan pesannya begini:

"....... saya mau tanya, kalau foto yang di The Old Chaps itu yang ngirim siapa ya? Soalnya di situ ada foto-foto saudara saya dan mereka juga berfoto di depan rumah mbah uyut saya namanya mbah Muhammad Yatim. Beliau adik uyut saya Siti Mariah, dan juga di situ ada atok saya Atok Zakaria dll. Memang tidak semuanya saya kenal, tetapi sebagian besar saya tahu. Saya cuma pengen tahu apakah ini kebetulan saja, atau memang ada hubungan?

Sampai di sini, adakah di antara kita yang dapat menjelaskan "hubungan" antara nama-nama tersebut di atas?



Did you find this site useful?



In addition to the polling, please feel free to leave also your comment, critics, suggestion,
and whatever you may think of this site just right here. We value your opinion highly.


Thank you.

Author

Hi! My name is Nonki, or as you most probably have noticed they also call me Abang Nonki or just bang Nonki, a familiar nickname from Nurmaidi Syahputra Bin Syahruddin Bin Mas Muhammad Bin Muhammad Minhad Al Mubaraq. A quite long family name which I should not expect anyone would remember it perfectly, should I?

My relationship with the late Haji Rais is that my dear late grandmother; Siti Marliah is the eldest grandchild of his. So, I'm in the 5th generation group of this big family. But if you asked what is my relationship with this family site. The answer is, I am just a lousy house keeper.

Most Read